Ilmu Nahwu (Pengertian, sejarah, tujuan dan Metodologi pembelajarannya dalam dunia pendidikan bahasa Arab)
Oleh: Agung Maulana Mansyur (Mahasiswa PBA IUQI sem. 3)
Tidak bisa dipungkiri bahwa dewasa ini bahasa Arab telah menjadi bahasa Internasional disamping bahasa Inggris. Selain itu bahasa Arab juga merupakan bahasa yang memiliki keterkaitan dengan agama Islam yang merupakan agama mayoritas di negara Indonesia. Bahasa Arab digunakan untuk berdoa, beribadah serta memperdalam ilmu-ilmu agama Islam. Terlebih lagi ketika membaca al-Qur’an yang merupakan kitab suci umat Islam, tidak ada bahasa lain yang digunakan kecuali bahasa Arab. Mengingat bahasa Arab adalah bahasa yang digunakan dalam teks-teks primer umat Islam yaitu al-Qur’an dan Hadits maupun teks-teks sekunder seperti karya-karya ulama baik di bidang tauhid, fikih, akhlak serta ilmu pengetahuan lainnya. Oleh karena itu, bahasa Arab sangatlah penting untuk dipelajari. Namun, sangat disayangkan, kendala yang relatif berat dihadapi pembelajar bahasa Arab adalah dari sisi bahwa bahasa Arab hanya memiliki huruf konsonan saja, sedang huruf vokal tidak berupa huruf akan tetapi hanya berupa harakat (dhammah, fathah, kasrah atau sukun). Hal ini tentu memerlukan kemampuan untuk mengetahui kedudukan kata dalam kalimat bahasa Arab tersebut serta kemampuan untuk dapat menentukan bentuk kata tersebut. Dengan demikian untuk dapat membaca dan memahami literatur bahasa Arab tidak cukup dengan menghafal kosa katanya saja, setidaknya harus menguasai ilmu-ilmu yang mendukung yaitu salah satunya adalah dengan menguasai ilmu Nahwu. Sehingga ada sedikit gambaran tentang isi teks yang sedang dibacanya.
Ilmu
nahwu yang merupakan salah satu cabang ilmu yang digunakan untuk memahami
bahasa Arab tidak dapat diabaikan begitu saja, karena tanpa ilmu nahwu, bahasa
Arab akan menjadi kacau balau dan susunan kata serta kalimatnya akan tidak
teratur. Karena itu, di dalam mempelajari bahasa Arab, ilmu nahwu sangat
penting untuk diketahui. Ada kesan bahwasannya ilmu Nahwu itu sangat sulit
untuk dipelajari, padahal metode pengajaran ilmu ini cukup banyak dipraktekkan
oleh para guru yang cakap dalam bidang tersebut (nahwu), tetapi peserta didik
tetap saja mengalami kesulitan didalam memahaminya. Oleh sebab itu, maka
diperlukan metode pengajaran yang cocok serta langkah-langkah yang sesuai serta
materi pokok yang harus diprioritaskan terlebih dahulu untuk diajarkan kepada
para pelajar, sehingga dapat memudahkan mereka dalam mempelajari ilmu nahwu
yang merupakan salah satu ilmu yang sangat penting dalam memahami bahasa Arab.
Sejarah dan Pengertian Ilmu Nahwu
Sejarah
awal ilmu nahwu dapat dilacak melalui istilah Arab al-lahn, kebiasaan
orang Arab berbicara salah secara tata bahasa (gramatikal) bisa saja terjadi
sejak zaman dulu. Abu Tayyib pernah mensinyalir jika kesalahan gramatik
biasanya terjadi pada orang Arab pedalaman, kalangan pekerja kelas bawah dan
orang yang terarabkan. Dikisahkan dari Abul Aswad ad-Duali, ketika ia melewati
seseorang yang sedang membaca al-Qur’an, ia mendengar seseorang yang membaca
al-Qur’an tersebut sedang membaca surat at-Taubah ayat 3 dengan ucapan اَنَّ اللّه بَرِيءٌ من المُشرِكينَ
ورَسُولِهِ denga mengkasrahkan huruf lam pada
kata rasulihi yang seharusnya didhammahkan, dengan pembacaan
seperti itu maka dapat mengubah arti yang seharusnya “Sesungguhnya Allah dan
Rasul-Nya berlepas diri dari orang-orang Musyrik” menjadi “Sesungguhnya
Allah berlepas diri dari orang-orang musyrik dan Rasul-Nya”.
Karena mendengar perkataan ini, Abul Aswad ad-Duali
menjadi ketakutan, ia takut keindahan bahasa Arab menjadi rusak dan gagahnya
bahasa Arab pun menjadi sirna, padahal hal tersebut terjadi di awal mula daulah
Islam dan dibaca oleh orang Arab sendiri. Kemudian hal ini disadari oleh
khalifah Ali bin Abi Thalib, sehingga ia memperbaiki keadaan ini dengan membuat
pembagian kata, bab inna dan saudaranya, bentuk idhafah (penyandaran),
kalimat ta’ajjub (kekaguman), kata tanya dan selainnya, kemudian
khalifah Ali bin Abi Thalib berkata kepada Abul Aswad ad-Duali. (انحَ هذا
النحو) “Ikutilah jalan ini”. Dari kalimat inilah,
ilmu kaidah Bahasa Arab disebut dengan ilmu Nahwu.
Secara
etimologis, kata Nahwu berasal dari kata نحا-ينحو-نحوا yang
berarti jalamn (thariq), arah (jihat), contoh (mitslu),
ukuran (miqdar), dan tujuan (qashdu).
Sedangkan secara terminologis definisi nahwu yaitu
suatu ilmu yang mempelajari keadaan-keadaan dari akhir kata, i’rab atau bina
(Ibrahim Musthafa, 1936). Sedangkan menurut Ibnu Jinni (2008:78) ilmu nahwu
adalah “Menuju cara bicara orang Arab, dalam hal perubahan pada i’rab dan
lainnya, seperti tastniyah, jama’, tahqir, taksir, idhafah, nashab, tarkib dan
lainnya; agar orang yang bukan berbahasa Arab bisa meniru kefasihan orang Arab,
sehingga mereka berbicara dengan bahasa Arab meskipun bukan orang Arab, dan
jika mereka menyimpang dari bahasa Arab maka dikembalikan berdasarkan kaidah
nahwu tersebut.
Di zaman sekarang ini, setelah berkembangnya
penelitian dan pengkajian tentang analisis kebahasaan, para ulama cenderung
mengubah dan memperluas pengertian ilmu nahwu, bukan hanya terpusat dalam
pembahasan i’rab dan bina saja, namun dapat pula mencakup
mengenai pembahasan tentang penjaringan kosa kata, pertalian interen antara
beberapa kata, penyatuan beberapa kata dalam rentetan bunyi tertentu dan hubungan
antara kata-kata yang ada dalam kalimat serta komponen-komponen yang membentuk
sebuah ungkapan atau frase (Husain, 1959:97).
Suatu hal yang tidak dapat dipungkiri ialah perkembangan baru mengenai pengertian baru tentang ilmu nahwu ini tetap mempertahankan urgensi i’rab. Alasannya karena i’rab merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dalam pembentukan kalimat bahasa Arab. Kecenderungan sebagian kelompok yang merasa cukup dengan mensukun pada setiap akhir kata sehingga meninggalkan masalah i’rab merupakan kecenderungan yang tidak bisa diterima, karena peran dari i’rab sangatlah penting untuk memahami kaidah-kaidah dalam bahasa Arab dan merupakan karakter dari bahasa Arab itu sendiri. Tetapi walaupun demikian, agar tidak terlalu menyulitkan para pelajar, materi ilmu nahwu yang akan diajarkan haruslah efektif sesuai dengan tingkat kemampuan para pelajar.
Metode Pembelajaran Nahwu
Ukuran
keberhasilan seorang pengajar bahasa Arab bukan terletak pada kemampuan
keilmuan dan materi yang dikuasainya, tetapi seberapa jauh ia dapat membuat
pelajar menjadi tahu atau memiliki dan mengamalkan ilmu yang dimilikinya. Pola
pikir inilah yang selanjutnya melahirkan sebuah konsep metode pembelajaran.
Metode pembelajaran adalah gaya, pendekatan ataupun teknik yang dipakai oleh
pengajar dalam kegiatan proses pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran
yang ditetapkan dengan jalan yang paling gamblang, efektif dan efisien. Semua
metode pembelajaran pada dasarnya mengikuti prinsip-prinsip dasar tertentu dari
konsep-konsep atau teori psikologi dan falsafah pendidikan. Seorang guru bahasa
Arab tidak mungkin menetapkan hanya satu jenis metode saja selama proses
pembelajaran, karena setiap metode mempunyai kelebihan dan kelemahannya
masing-masing.
Dalam pandangan lama tentang metode pengajaran ilmu nahwu, para pelajar wajib menghafal kaidah-kaidah nahwu, walaupun mereka tidak memahaminya. Akibatnya mereka kurang berhasil dalam pengaplikasiannya. Maka dari sinilah timbul pemikiran-pemikiran untuk mencari solusi dari permasalahan tersebut, bagaimana cara mengatasi problema ini, tentu diantara cara mengatasinya adalah dengan mencari metode terbaik dan termudah untuk menyampaikan pesan-pesan ilmu nahwu kepada para pelajar. Ibrahim Muhammad ‘Atha membagi metode pembelajaran nahwu ke dalam enam kategori, yaitu metode deduksi, metode induksi, metode tekstual, metode aktivitas/kegiatan, metode analisis problem, dan metode fokus.
1. Metode Deduksi (الطريقة القياسة او الاستنباطية او الاستدلالية)
Pembelajaran
nahwu dengan menggunakan metode deduksi yaitu pembelajaran yang dimulai dengan
menyampaikan konsep-konsep dan definisi kemudian melihat fenomena bahasa yang
ada. Metode ini merupakan metode yang paling lama dan paling banyak digunakan
dalam kitab-kitab nahwu yang ada, dengan menekankan pada kaidah gramatika,
dalil-dalilnya dan memberikan sedikit contoh. Kitab-kitab yang disusun dengan
menggunakan metode ini diantaranya adalah kitab Alfiyah ibn Malik, ‘Imrithi,
Jurumiyah dan sebagainya. Proses pembelajaran dimulai dengan menyebutkan
kaidah gramatika secara langsung, kemudian menjelaskannya dengan sedikit contoh
dan diakhiri dengan menghafalkan kaidah.
Kelebihan
dari metode deduksi adalah proses pembelajaran memerlukan waktu yang sedikit.
Selain kelebihan itu, metode ini juga mengandung kelemahan, diantaranya metode
deduksi cenderung mengabaikan faktor perbedaan individu peserta didik,
pengembangan daya pikir/nalar dan kreativitas. Selain itu metode ini cenderung
mengabaikan kebutuhan peserta didik akan makna bahasa dalam kehidupan
sehari-hari. Namun demikian, bagi sebagian masyarakat dan lembaga pendidikan
metode ini menjadi sebuah tren. Pesantren-pesantren salafiyah, pada
umumnya menempatkan kitab Alfiyah yang disusun berdasarkan metode ini
sebagai standar keberhasilan pembelajaran bahasa Arab dalam arti nahwu.
2. Metode Induksi (الطريقة الاستقرائية)
Metode
pembelajaran ilmu nahwu dengan menggunakan metode induksi ini dimulai dengan
mengemukakan contoh-contoh, mendiskusikannya dengan para pelajar, menganalisis
persamaan dan perbedaan dari semua contoh-contoh tersebut, konseptualisasi
kaidah dan melatih pelajar membuat kaidah umum bahasa Arab berdasarkan
konseptualisasi contoh-contoh tersebut. Peran pengajar dalam metode ini lebih
banyak sebagai pembimbing dan pengarah kegiatan, sebaliknya pelajar dituntut
untuk lebih aktif. Kitab nahwu yang disusun berdasarkan metode ini adalah kitab
al-Nahwu al-Wadhih karya Ali Jarimi dan Musthafa Amin. Metode ini dianggap
sebagai metode yang paling sesuai dengan perkembangan pelajar. Walaupun
demikian, metode ini tetap mempunyai kelebihan dan kekurangan.
Kelebihan
dari metode ini diantaranya adalah; 1) Melibatkan pelajar secara aktif dalam
proses pembelajaran bahasa Arab yang berlangsung, 2) berangkat dari materi yang
mudah, sederhana, konkret dan terbatas menuju kepada materi yang lebih abstrak
dan umum, dan 3) melatih nalar untuk bersifat kritis, analitis, dan
konstruktif. Sementara kelemahan metode induksi diantara adalah; 1) memerlukan
waktu lebih banyak, 2) cenderung mengabaikan bahasa baku teoritis, sehingga
kurang praktis untuk menghafalkan kaidah umum bahasa, 3) kaidah gramatika yang
dikuasai sangat terbatas.
3. Metode Tekstual (طريقة النصوص المتكلمة)
Pembelajaran
nahwu dengan menggunakan metode ini dilakukan dengan cara penyampaian materi
dimulai dengan membaca teks, kemudian contoh lalu gramatika, sehingga disebut
juga Thariqatul an-Nushush tsumma al-Amtsilati wa al-Qaa’idati. Para
pendukung metode ini memandang bahwa pembelajaran nahwu yang baik harus
dihubungkan dengan bahan bacaan, dan mendengarkan serta berinteraksi dengan
teks bacaan secara total, tidak terbatas dengan menghafal kaidah-kaidah nahwu
saja.
Pengaplikasian
metode ini dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:
a. Membaca
naskah bacaan secara benar dan menjelaskan makna yang terkandung sampai pelajar
betul-betul memahaminya.
b. Pengajar
memberikan pertanyaan atau soal terhadap kata-kata yang di dalamnya mengandung
kaidah gramatika.
c. Pengajar menuliskan
beberapa kata kunci yang diinginkan untuk menjelaskan kaidah gramatika di papan
tulis.
d. Pengajar
mengevaluasi semua materi yang berkaitan dengan kaidah gramatika dan meminta
semua pelajar untuk menghafalkannya.
e. Pengajar
memberikan pengayaan dengan memberikan contoh-contoh di luar teks yang
mengandung kaidah gramatika yang telah direncanakan sebelumnya.
4. Metode Aktivitas (طريقة النشاط)
Pembelajaran
nahwu dengan menggunakan metode ini dimulai dengan pemberian tugas kepada semua
pelajar supaya memahami konsep-konsep kaidah
gramatika, seperti fi’il, fa’il, maf’ul, jar majrur, nawasikh dan
sebagainya, kemudian mereka disuruh mencari contoh-contohnya di dalam kitab
atau bacaan lain yang berkaitan. Setelah itu hasil bacaan tersebut didiskusikan
dan diambil kesimpulannya secara bersama-sama, dan dilanjutkan dengan latihan
pengayaan contoh-contoh lainnya. Kelebihan metode ini adalah; 1) Pelajar
betul-betul memahami dan hafal terhadap kaidah-kaidah gramatika, 2) melibatkan
pelajar secara aktif, 3) lebih komrehensif, karena dikaitkan langsung dengan
naskah bacaan dan memahami makna yang terkandung di dalamnya. Adapun
kelemahannya adalah; 1) Pelajar dibebani dengan tugas yang cukup berat, karena
harus menghafal dan memahami sekaligus kaidah-kaidah gramatika, 2) secara
psikologis kurang tepat sebab dimulai dari materi yang berat dan sulit menuju
materi yang lebih mudah, 3) membutuhkan banyak waktu.
5. Metode Analisis Problem(طريقة حل المشكلات)
Metode
analisis problem adalah metode yang menekankan pada kesalahan-kesalahan yang
lazim terjadi dalam ungkapan, tulisan ataupun bacaan dan menganalisisnya dari
perspektif kaidah gramatika (Munir:2017). Proses pembelajaran biasanya diawali
dengan meminta pelajar untuk bercakap-cakap, membaca teks tertentu, atau
mendengarkan siaran berita. Kemudian pengajar menulis beberapa kata atau
kalimat yang mengandung problem/kesalahan di papan tulis. Setelah itu pengajar
mengajak pelajar untuk mencari letak kesalahan kata-kata yang tertulis tersebut
dalam konteks kalimat atau ungkapan tadi. Setelah itu menganalisis
kesalahan-kesalahan tersebut dengan menggunakan kaidah gramatika yang telah
disampaikan dan dihafalkan sebelumnya.
Metode ini sangat cocok untuk
pembelajaran nahwu dalam arti yang sebenarnya. Artinya, metode ini mengarahkan
pada penguasaan materi nahwu secara total, tidak hanya bersifat teoritis
belaka, tetapi menyentuh pada aspek praktis analitis, mendalam dan detail.
Namun metode ini kurang cocok bagi pelajar kelas pemula atau yang kurang
berminat terhadap hal-hal yang rumit. Apalagi bagi pelajar yang memiliki daya
ingat yang kurang baik.
6. Metode fokus (طريقة التعيين)
Metode
ini tidak hanya terpaku pada kaidah gramatika saja, tetapi merupakan metode
komprehensif, yaitu melihat bahasa secara utuh. Metode ini lebih cocok untuk
pelajar perguruan tinggi (mahasiswa), dan sulit dipakai untuk pelajar yang
mempunyai tingkat kemampuan dasarnya masih rendah. Metode ini menuntut
referensi yang cukup banyak, dan melihat gejala nahwu dari berbagai sudut
pandang.
Metode ini digunakan dalam
pembelajaran materi nahwu secara mendalam dan kritis, yaitu membandingkan
pendapat antar konsep, antar penulis, karakteristik antar kitab nahwu dan
seterusnya. Pembelajaran dimulai dengan mengemukakan beberapa gejala bahasa
yang lazim dipakai, lalu menganalisisnya dari berbagai perspektif. Jadi materi
yang diberikan hanya sedikit, kemudian dituntut untuk mencari jawaban seluas
mungkin dengan referensi sebanyak mungkin.
Tujuan Pembelajaran Ilmu Nahwu
Ilmu nahwu merupakan ilmu yang menjadi
salah satu sarana untuk membantu kita berbicara, membaca dan menulis bahasa
Arab dengan benar serta meluruskan dan menjaga lidah kita dari kesalahan, juga
membantu dalam memaparkan ajaran dengan cermat dan lancar. Diantara beberapa
tujuan pembelajaran ilmu nahwu ialah:
1.
Menjaga dan menghindarkan
lisan serta tulisan dari kesalahan berbahasa Arab, disamping menciptakan
kebiasaan berbahasa yang fasih. Itulah sebabnya ulama Arab dan islam zaman
dahulu berupaya untuk merumuskan ilmu nahwu disamping untuk menjaga bahasa
al-Qur’an dan hadits .
2.
Membantu para pelajar
untuk memahami ungkapan-ungkapan bahasa Arab sehingga mempercepat pemahaman
terhadap maksud pembicaraan dalam bahasa Arab.
3.
Membiasakan para pelajar
bahasa Arab untuk selalu menganalisis, berfikir logis serta kegunaan lain yang
dapat membantu mereka untuk melakukan pengkajian terhadap tata bahasa Arab
secara kritis.
4.
Mengasah otak, mencerahkan
perasaan serta mengembangkan khazanah kebahasaan para pelajar.
5.
Memberikan kemampuan
kepada para pelajar untuk menggunakan kaidah bahasa Arab dalam berbagai suasana
kebahasaan.
6.
Kaidah-kaidah dapat
memberikan kontrol yang cermat kepada para pelajar saat mengarang sebuah
karangan (Insha).
SIMPULAN
Ilmu nahwu merupakan ilmu yang
sangat penting untuk dipelajari bagi para pelajar terkhusus bagi mereka yang
sedang menggeluti dunia pendidikan bahasa Arab, karena ilmu Nahwu ialah ilmu yang
mempelajari kaidah-kaidah dalam penyusunan kalimat bahasa Arab sehingga dengan
mempalajari kaidah tersebut dapat membantu di dalam tata cara pengucapan kata
dalam bahasa Arab dengan baik dan benar. Tetapi walaupun demikian diperlukan
adanya metode-metode di dalam mempelajari ilmu nahwu guna mencapai tujuan
pembelajaran yang sesuai. Setelah dianalisis beberapa metode pengajaran nahwu
dalam tulisan ini, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut. Dalam
pembelajaran ilmu nahwu harus ada inovasi, yaitu objek kajiannya harus
diperluas. Selain itu untuk menghindari kesalahan dalam penuturan bahasa Arab
maka ilmu nahwu sebagai kaidah yang mengatur cara menyusun kosakata bahasa Arab
dengan benar harus dipelajari, khususnya oleh pelajar yang ingin memahami
literatur-literatur yang berbahasa Arab dan pelajar yang ingin berkomunikasi
dalam bahasa Arab. Ada beberapa metode dalam pengajaran nahwu, masing-masing
metode tersebut mempunyai kelebihan ataupun kekurangan. Oleh sebab itu,
diperlukan penelitian intensif di lapangan oleh orang-orang spesialis di
bidangnya agar dapat ditemukan metode yang cocok untuk pembelajaran nahwu. Agar
para pelajar dapat memahami ilmu nahwu secara lebih mudah, dibutuhkan metode
pengajaran yang cocok untuk meminimalisir kekurangan mereka, yaitu dengan cara
tidak terpaku kepada satu metode tertentu saja, tetapi harus menggabungkan
semua metode sesuai dengan kebutuhan situasi dan kondisi para pelajar.
Referensi:
Al-Hasyimi,
Ahmad. Al-Qawa’id al-Asasiyyah li al-Lughat al-Arabiyyah, (Beirut: Dar
al-Fikr), pdf.
Al-Munjid
fi al-Lughat, Dar al-masyriq, Beirut. 2011, cet. 44.
Muallif. Metodologi
Pembelajaran Nahwu, (2019), pdf.
Munir.
Perencanaan Sistem Pengajaran Bahasa Arab, (Jakarta: Kencana, 2017)cet,
1.



Masyaa Allah
BalasHapusMaa syaa Allah semoga sukses selalu
BalasHapus