PEMBELAJARAN BAHASA ARAB BESERTA ORIENTASINYA
Di indonesia, masyarakat lebih mengenal bahasa Arab yang orientasinya tertuju pada religius saja. Yang mana orang yang belajar bahasa Arab hanya memahami sumber ajaran Islam. Jika umat Islam memiliki pemahaman bahasa Arab yang baik dan benar, maka akan mudah ia memahami sumber ajaran-ajaran yang disyariatkan kepada nabi Muhammad shollahu alaihi wasallam. Akan tetapi, bahasa Arab bukan hanya bicara akidah dan syariah saja. Lebih dari itu, bahasa Arab tampil sebagai Tsaqofah (keluhuran), Hadarah (kemajuan) dan Ilm wa Al-ma’rifat (ilmu pengetahuan dan sains).
Mempelajari bahasa Arab tidaklah hanya satu disiplin ilmu saja, akan tetapi bahasa Arab memiliki beberapa cabang ilmu untuk mempelajarinya. Diantaranya:
1. Ilmu Qawaid Lughoh, meliputi ilmu sharaf, nahwu, khat, insya’, ilmu lughoh dan istisyqaq.
2. Ilmu Mantik, meliputi ilmu antropologi bahasa, inscipisi dan ilmu perkamusan.
3. Ilmu Balaghah, meliputi ilmu bayan, badi’, dan ma’ani.
4. Ilmu Adab, meliputi ilmu ‘arud, qard, qawafi, syi’ir & natsr, fiqh al-lughah, tarikh adab al-lughah, naqd al-adab.
Berdasarkan uraian diatas, maka bahasa Arab memiliki tujuan pembelajarannya, sebagaimana yang dijelaskan oleh Ikhwan nur rois & Cahya edi setyawan (2019: 345-346), tujuan belajar bahasa Arab ialah karena bahasa Arab merupakan bahasa agama Islam, bahasa arab sebagai alat pemersatu, bahasa Arab sebagai alat pembantu pengembangan bahasa Indonesia, bahasa Arab sebagai alat pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dengan demikian, belajar bahasa Arab sangatlah mulia begitupun dengan tujuan-tujuannya. Tujuan belajar bahasa Arab itu agar lebih mudah memahami ilmu-ilmu dunia dan ilmu-ilmu agama.
Pembelajaran bahasa Arab mempunyai orientasi tersendiri. Orientasi artinya adalah pandangan yang mendasari pikiran. Belajar bahasa Arab mempunyai orientasi yang berbeda-beda pada setiap individu pembelajarnya, dengan adanya suatu orientasi maka para pelajar bahasa Arab dapat menentukan kemana ia akan mendalami dan fokus dari berbagai ilmu-ilmu bahasa Arab. Dalam paparan diatas sudah disebutkan bahwa masyarakat indonesia memahami orientasi pembelajaran bahasa Arab hanya sebatas religius saja. Artinya, bahasa Arab hanya mempelajari bagaimana kita memahami sumber ajaran Islam. Lebih dari itu, orientasi pembelajaran bahasa Arab juga mencakup pada orientasi akademik, orientasi komunikasi dan orientasi religius. Dalam artikel ini, penulis akan memaparkan orientasi pembelajaran bahasa Arab meliputi aspek akademik, komunikasi dan religius.
1. Orientasi Akademik
Orientasi ini sangat populer di telinga mahasiswa, yang mana jika pembelajar bahasa Arab mempunyai orientasi akademik, maka ia akan mencapai tujuannya. Tujuan dari orientasi akademik dalam bahasa Arab adalah menjadi seorang praktisi bahasa Arab dan akademisi bahasa Arab. Praktisi artinya adalah seorang pelaksana dalam bidang bisnis, dalam hal ini seperti pengusaha buku bahasa Arab ataupun kitab-kitab berbahasa Arab yang diambil langsung dari penerbit di jazirah Arab. Sedangkan akademisi artinya adalah orang yang memiliki pendidikan tinggi. Beberapa orientasi seseorang menjadi akademisi bahasa Arab, seperti: peneliti, profesor, dosen ataupun guru dalam bidang bahasa Arab.
2. Orientasi Komunikasi
Orientasi ini lebih tertuju pada kecakapan dalam berbicara. Hal ini selaras dengan keterampilan bahasa Arab yang salah satunya adalah keterampilan berbicara. Jika pembelajar bahasa Arab mempunyai orientasi komunikasi, maka ia akan mendapatkan tujuannya. Diantaranya adalah dapat berkomunikasi dengan baik, yang mana seseorang akan dapat berkomunikasi secara baik kepada penutur langsung menggunakan bahasa Arab. Di sisi lain, jika sudah dapat berkomunikasi dengan baik kita dapat membantu atau mendampingi masyarakat yang ingin ke Negara-negara Arab. Selain itu, orientasi komunikasi juga mengantarkan pembelajar bahasa Arab menjadi seorang diplomatis. orientasi ini dikenal mahasiswa sebagai hubungan internasional. Aji Surya dalam Stadium General Universitas Gajah Mada (2020), menyampaikan bahwa seorang diplomat harus bisa melakukan protecting (perlindungan), negotiating (negosiasi), promoting (promosi), reporting (melaporkan) dan representing (mempresentasikan). Dengan demikian, orientasi ini dapat diraih oleh pembelajar bahasa Arab khususnya pada bidang sastra Arab.
3. Orientasi Religius
Orientasi ini menjadi asas utama di Indonesia, yang mana setiap pembelajar bahasa Arab menyebutkan agar dapat memahami sumber syariat Islam secara sempurna. Abdullah ad-Darras pernah mengatakan bahwa menguasai bahasa Arab termasuk rukun menjadi seorang mujtahid. Dari sini dapat kita pahami bahwa orientasi utama dan mulia belajar bahasa Arab adalah untuk memahami secara sempurna sumber-sumber ajaran Islam yakni al-Qur’an & al-Hadist dibantu dengan mempelajari kutubut turost. Apabila pembelajar bahasa Arab mempunyai orientasi religius, maka ia akan tampil menjadi da’I atau ulama bidang bahasa Arab. Hal ini disebabkan bahwa apabila sudah mahir atau ahli dalam bahasa Arab, maka dalam berdakwah akan mendapatkan kemudahan untuk menyampaikan kandungan ilmiah yang berbahasa Arab kepada jama’ahnya.



Komentar
Posting Komentar